Opini Detail

Menjaga Pemikiran Cak Nur

Oleh: Ryo Disastro (Alumni HMI Cabang Jakarta Pustara, Komisariat FISIP Universitas Bung Karno)

Bagi saya, menghadiri Haul Cak Nur bukan sekadar menghadiri sebuah acara untuk mengenang seorang tokoh. Ada hubungan yang jauh lebih personal antara saya dan sosok Nurcholish Madjid. Sebagai kader HMI dan kini menjadi bagian dari KAHMI, saya merasa berada dalam mata rantai intelektual yang pernah dibangun Cak Nur. Karena itu, setiap kali namanya disebut, yang hadir bukan hanya ingatan tentang seorang cendekiawan, tetapi juga pertanyaan tentang apa yang telah kami lakukan untuk meneruskan gagasan yang pernah ia perjuangkan.

Sabtu, 29 Agustus 2026, pertanyaan itu kembali muncul dalam Haul Cak Nur ke-21 di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan. Acara yang diawali sambutan Fakhrurrozi Madjid dan doa oleh Wahyuni Nafis, membawa saya kembali pada satu kesadaran bahwa warisan seorang tokoh tidak pernah berhenti pada buku, pidato, atau kenangan. Warisan itu baru berarti ketika generasi setelahnya mampu menghidupkannya dalam konteks zamannya sendiri.

Saya semakin merasakan itu ketika ibu Umi Komaria Madjid, istri mendiang Cak Nur, mengisahkan percakapan dan pelajaran yang pernah diberikan Cak Nur kepadanya tentang kepemimpinan. Cak Nur pernah menceritakan kisah Khalifah Umar bin Khattab yang mendapati seorang ibu memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis karena kelaparan. Sang ibu bahkan mengumpat Umar karena menganggap pemimpin saat itu tidak peduli terhadap penderitaannya.

Umar tidak tersinggung. Ia justru merasa malu dan sedih karena ada rakyat yang kelaparan sementara dirinya memegang amanah sebagai pemimpin. Ia kemudian mengambil gandum dan membawanya sendiri kepada keluarga tersebut. Bagi saya, kisah yang disampaikan Umi itu sederhana, tetapi justru di situlah kedalaman ajaran Cak Nur tentang manusia dan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak boleh membangun jarak dengan penderitaan rakyat hanya karena dirinya berada di puncak kekuasaan.

Sebagai kader HMI, saya merasa kisah itu memiliki resonansi yang kuat. Tradisi HMI yang saya kenal tidak hanya mengajarkan kecakapan intelektual, tetapi juga menuntut keberpihakan pada persoalan masyarakat. Ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan yang tersimpan di kepala. Ia harus menjelma menjadi keberanian untuk melihat kenyataan, merasakan penderitaan, dan mengambil tanggung jawab atas keadaan.

Pesan tersebut kemudian terasa semakin kuat ketika acara menayangkan dokumentasi perjalanan Cak Nur dalam proses Reformasi 1998. Saya melihat kembali bagaimana seorang intelektual dapat mengambil posisi penting ketika bangsa berada dalam persimpangan sejarah. Cak Nur tidak memilih untuk berdiri di luar persoalan bangsa. Ia masuk ke dalam perdebatan tentang demokrasi, negara, agama, dan masa depan Indonesia dengan seluruh kapasitas intelektual yang dimilikinya.

Orasi budaya Mahfud MD kemudian membawa refleksi itu ke wilayah yang lebih luas. Mahfud mengingatkan kontribusi Cak Nur dalam memikirkan posisi umat Islam Indonesia sekaligus relasinya dengan negara. Bagi saya, ini adalah salah satu warisan Cak Nur yang sangat penting. Bagaimana menjadi seorang Muslim yang taat tanpa kehilangan komitmen sebagai warga negara, dan bagaimana kehidupan beragama justru dapat memperkuat kehidupan kebangsaan.

Mahfud mengisahkan pengalaman India, Pakistan, dan Bangladesh untuk menunjukkan betapa kuatnya ikatan primordial dalam kehidupan masyarakat. Agama, suku, bahasa, dan identitas lainnya dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, tetapi pada saat yang sama dapat pula menjadi sumber perpecahan ketika bertemu dengan ketidakadilan dan perebutan kekuasaan. Dalam konteks itu, menjaga Indonesia sebagai rumah bersama bukanlah pekerjaan yang ringan.

Di sinilah saya melihat kembali relevansi Cak Nur sebagai seorang senior HMI. Ia tidak hanya berbicara mengenai Islam dalam ruang keagamaan, tetapi juga mengenai bagaimana umat Islam mengambil posisi dalam negara yang majemuk. Pilihan untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu contoh bagaimana Cak Nur berusaha menemukan titik temu antara keyakinan keislaman dan komitmen kebangsaan.

Bagi saya yang pernah tumbuh dalam tradisi HMI dan kini berada di lingkungan KAHMI, pesan tersebut bukan sekadar materi sejarah pemikiran. Ia adalah semacam panggilan tanggung jawab. Sebab menjadi junior dari Cak Nur bukan berarti memiliki hak untuk terus-menerus membanggakan nama dan warisannya. Justru sebaliknya, status itu menuntut kami membuktikan bahwa nilai-nilai yang pernah ia perjuangkan masih memiliki daya hidup.

Kita tentu tidak mungkin mengulang Cak Nur. Zaman telah berubah. Persoalan Indonesia hari ini berbeda dengan persoalan ketika Cak Nur berhadapan dengan Orde Baru atau Reformasi 1998. Tetapi justru di situlah tantangan generasi HMI dan KAHMI hari ini. Kita bukan menjadi salinan Cak Nur, melainkan melanjutkan keberanian intelektualnya untuk membaca zaman dan mencari jalan keluar bagi bangsa.

Kita seharusnya menjadi “muazin-muazin baru”. Bukan sekadar orang yang pandai mengutip Cak Nur, tetapi mereka yang berani menyuarakan kebenaran ketika suara mayoritas sedang keliru, menjaga konstitusi ketika kekuasaan mulai melewati batas, dan merawat persatuan ketika politik identitas kembali mengeras.

Bagi saya, itulah makna terdalam Haul Cak Nur ke-21. Kita tidak sedang mengunjungi masa lalu untuk bernostalgia. Kita sedang bercermin kepada seorang senior untuk melihat apakah generasi yang ditinggalkannya masih memiliki keberanian, kejernihan berpikir, dan komitmen kebangsaan yang sama.

Sebagai kader HMI dan bagian dari KAHMI, saya merasa pertanyaan itu akhirnya kembali kepada diri sendiri. Apakah kami hanya akan menjadi pewaris nama besar Cak Nur, atau benar-benar menjadi penerus api pemikirannya?

Sebab seorang guru besar tidak benar-benar dikenang melalui banyaknya orang yang menyebut namanya. Ia hidup melalui gagasan yang terus bekerja setelah dirinya tiada. Dan tugas kami, para juniornya, bukan sekadar menjaga nama itu tetap dikenang, melainkan memastikan apinya tetap menyala dan memberi cahaya bagi Indonesia.(*)

Baca Juga : Cak Nur dan Islam Peradaban: Relevansinya bagi KAHMI Jaya Hari Ini